Minggu, 01 April 2012


MAX WEBER

menyadari bahwa bentuk “birokrasi yang ideal” itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi tersebut dengan maksud menjadikannya sebagai landasan untuk berteori tentang bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain struktural bagi banyak organisasi besar sekarang ini. Max Weber lahir 1864, di tengah-tengah keluarga profesional Prussia kelas menengah. Ia belajar pada beberapa universitas di Jerman seperti Heidelberg, Goettingen, dan Berlin. Kemudian studinya dilanjutkan setelah dia bekerja sebagai hakim di pengadilan Berlin. Ia memperoleh penghargaan tertinggi akademik sebagai profesor penuh di bidang ekonomi dari universitas Freiburg ketika berusia 30 tahun. Gelar profesor di Jerman kala itu dihargai amat tinggi dibandingkan penghargaan yang diberikan oleh negara manapun. Weber mampu meraih penghargaan tertinggi tersebut pada usia begitu muda pada jamannya. Max Weber menulis pada permulaan abad 19 dan telah mengembangkan sebuah model struktural yang ia katakan sebagai alat yang paling efisien bagi organisasi-organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ia menyebut struktur ideal ini sebagai birokrasi. Struktur tersebut ditandakan dengan adanya pembagian kerja, sebuah hirarki wewenang yang jelas, prosedur seleksi yang formal, peraturan yang rinci, serta hubungan yang tidak didasarkan hubungan pribadi (impersonal). Gambaran Weber tentang birokrasi telah menjadi prototipe rancangan bagi kebanyakan struktur organisasi yang sekarang ada.
Weber mengemukakan pokok-pokok pikirannya tentang birokrasi dalam organisasi modern, sebagai suatu tipe khusus sebuah struktur sebagi berikut:
1. Pemerintahan yang bersih atau memiliki aturan kegiatannya atau aktivitasnya dilakukan secara khusus atau spesialisasi staf administrasi (tidak sama seperti bentuk tradisional dimana penyerahan tugas-tugas dilakukan oleh pemimpin dan dapat dirubah kapan saja).
2. Organisasi mengikuti prinsip hirarki, sub-ordinat taat terhadap tata tertib atau kekuasaan, tetapi memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat (berbeda dengan otoritas dalam struktur tradisional).
3. Maksud (intensial), keputusan yang mengatur aturan yang abstrak, tindakan, dan keputusan selalu stabil, mendalam, dan dapat dipahami. Ketetapannya terarsipakan secara permanen (di dalam bentuk tradisional hukum bersifat kurang tegas atau tidak direkam secara tertulis).
4. Pengertian produksi atau administrasi adalah sebagai akktifitas perkantoran. Kepemilikan pribadi terpisah dari kepemilikan kantor (dinas).
5. Pegawai diseleksi berdasarkan tehnik kualifikasi bukan dipilih begitu saja tanpa spesialisasi yang jelas. Mereka diberi kompensasi berupa imbalan dan penalti sesuai aturan.
6. Jabatan pada organisasi merupakan suatu karier yang permanen. Pegawai merupakan pekerja full-time dan berpandangan ke depan kepada suatu kehidupan karier yang panjang. Sesudah beberapa periode mereka mendapatkan kenaikan atau promosi jabatan dan dilindungi dari pemecatan yang sewenang-wenang.
Gambaran tersebut di atas menurut Weber merupakan tipe ideal dari birokrasi sebagai suatu model yang disederhanakan (bukan suatu model yang dilebih-lebihkan) yang di fokuskan pada sisi yang paling penting. Thompson (1967) mendukung pendapat Weber dengan berpendapat bahwa tujuan hakiki dari administrasi adalah mengurangi ketidak pastian, tetapi tidak pula mengurangi fleksibilitas organisasi. Weber menyadari bahwa bentuk “birokrasi yang ideal” itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi tersebut dengan maksud menjadikannya sebagai landasan untuk berteori tentang bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain struktural bagi banyak organisasi besar sekarang ini.

ANALISIS SWOT

 

                                    Internal


          Eksternal
Streangth (kekuatan)
1.   Banyak staf yang cukup kompeten
2.   Banyak dosen yang kompeten
3.   Punya alumni yang banyak
4.   Bidang ilmu khusus yang harus praktek ibadah yang diperlukan oleh masyarat
Weakness (kelemahan)
1.     Program kerja yang tidak relevan
2.     Membutuhkan waktu yang banyak
3.     Banyak kegiatan yang dilaksanakan diluar kampus
4.    Banyak modal yang harus dikeluarkan
Opportunities (peluang)
1.  Cukup terbuka untuk mengadakan kerjasama dengan lembaga lain.
2.  Banyaknya bidang ilmu terutama praktek ibadah yang dibutuhkan masyarakat.
3.  Menjalin kerja dengan alumni yang telah memiliki kedudukan ditempat kerjanya.
4. Terbuka untuk mengadakan pelatihan diberbagai bidang keilmuan
Asumsi Strategi (SO)
1.   Gunakan stap untuk mengadakan promosi secara terus-menerus
2.   Hubungi alumni-alumni untuk diminta bantuan
3.   Mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan praktek ibadah
4.   Kembangkan ilmu yang diperlukan masyarakat
Asumsi Strategi (WO)
1.     Jalin program kerja yang baik dengan lembaga lain
2.     Gunakan waktu yang banyak untuk ilmu praktek
3.     Laksanakan program kurikulum yang bagus dna minta bantuan alumni
4.     Tarif harga latihan yang konpetitif dan terjangkau masyarakat
Threats (tantangan)
1.  Kurangnya peminat untuk belajar
2.  Penolakan langsung
3.  Rendahnya tingkat ekonomi masyarakat
4.  Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat
Asumsi Strategi (ST)
1.   Lakukan berbagai promosi dan iklan
2.   Tampakan kretipitas dosen kepada masyarakat sekitar.
3.   Mencari peminat yang mampu membayar
4.   Fokus pada masyarakat terdidik
Asumsi Strategi (WT)
1.     Program sederhana tidak berbelit-belit
2.     Gunakan waktu yang sesingkat dalam suatu kegiatan
3.     Biaya yang murah dan terjangkau
4.     Masyarakat terdidik yang menjadi sasaran utama

Masalah utama : Tidak adanya program promosi yang berkesinambungan terhadap masyarakat




Tugas ke-1    : ANALISIS SWOT
Mata Kuliah : MSDM
Kasus            : STAI Bandung
Dosen            : Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA


Disusun oleh :
NAMA           :           USEP BIBAN
NIM                :           82321112163
Kelas               : 12F
Program          : Pascasrjana Unigal
ANALISIS SWOT
 


                                    Internal

          Eksternal
Streangth (kekuatan)
1.        Jumlah PNS yang cukup banyak
2.        Banyak pegawai yang profesional dan produktif
3.        Punya kesempatan untuk mengangkat CPNS baru
4.        Masa bekerja yang sangat lama
Weakness (kelemahan)
1.        40% yang benar-benar bekerja yang lainya hanya datang ke kantor
2.        Tidak ada target pekerjaan untuk setiap harinya
3.        Kurang mempunyai keahlian dan profesi pada pekerjaannya
4.        Lemahnya system birokrasi yang ada
Opportunities (peluang)
1.        Pemakai sistem birokrasi pemerintah
2.        Waktu bekerja untuk melakukan pelayanan sudah ditentukan.
3.        Bisa mengangkat pegawai baru yang punya keahlian dan profesional
4.       Meningkatkan kinerja pegawai yang lebih baik
Asumsi Strategi (SO)
1.        Terapkan system birokrasi pada pegawai yang cukup banyak itu.
2.        Tingkatkan kerja yang profesional dan produktif
3.        Seleksi CPNS yang punya keahlian dan profesional
4.        Masa kerja yang lama dapat meningkatkan kinerja yang baik
Asumsi Strategi (WO)
1.        Sebagai pengguna system birokrasi haruslah bekerja sebenar-benarnya.
2.        Harus punya target kerja dalam waktu tertentu.
3.        Pengangkatan CPNS yang mempunyai keahlian dan professional pada pekerjaannya.
4.        Tingkatkan kerja sistem birokrasi yang efekti dan efesien
Threats (tantangan)
1.        Banyak aturan yang harus dirubah pada system birokrasi
2.        Harus mengadakan penilaian terhadap kinerja pegawai
3.        Seleksi CPNS harus yang benar-benar punya keahlian dan professional
4.        Jam kerja yang kurang efektif dan efesien
Asumsi Strategi (ST)
1.        Perubahan system harus mencakup kepada semua PNS
2.        Pegawai harus dinilai kinerjanya, profesinya dan produktifitasnya
3.        Pengangkatan CPNS harus yang memiliki keahliah dan professional
4.        Masa dan waktu kerja yang teratur diharapkan dapat bekerja secara efektif dan efesien.
Asumsi Strategi (WT)
1.        Terapkan perubahan system birokrasi ini khususnya kepada 60% pegawai
2.        Adakan penilaian kerja untuk mencapai target yang telah ditentukan
3.        Pengangkatan CPNS harus yang memiliki keahlian dan profesi
4.        Dengan system birokrasi yang ada, tingkatkan kerja yang efektif dan efesien.

Masalah utama : kurangnya penilaian kinerja pegawai terhadap individu pegawai




Tugas ke-2    : ANALISIS SWOT
Mata Kuliah : MSDM
Kasus            : Menneg PAN Akan Buat Kontrak Kerja PNS
Dosen            : Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA


Disusun oleh :
NAMA           :           USEP BIBAN
NIM                :           82321112163
Kelas               : 12F
Program          : Pascasarjana Unigal




KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
AKAN MEMBUAT KONTRAK KERJA BAGI PNS



DESKRIPSI KASUS

1.    Subjek / Institusi     :    MENEG PAN  BIDANG SDM 
2.    Kegiatan                 :    UPAYA MENINGKATKAN PROFESIONALITAS DAN  PRODUKTIVITAS PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)
3.    Fakta deskripsi    :
ü  Membuat  kontrak kerja bagi PNS di pusat dan daerah.
ü  Persiapan Peraturan Pemerintah mengenai penilaian prestasi kerja PNS yang didalamnya terdapat peraturan mengenai Sasaran Kerja Individu ( SKI ) yang di buat semacam kesepakatan pemerintah dan PNS.
ü  SKI berisi daftar target kerja yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh PNS dalam waktu tertentu.
ü  Penilaian pencapaian hasil  kerja PNS.
ü  Penataan kembali system birokrasi di Indonesia.
ü  Hanya 40%  PNS yang benar-benar bekerja..
ü  Program untuk meningkatkan profesionalitas dan produktivitaskinerja PNS
ü  Standar baku untuk menyeleksi para CPNS berdasarkan kompetensi, keahlian, serta profesionalitas.
ü  Rekrutmen pegawai berdasarkan pada kompetensi, keahlian serta profesionalisme.
ü  Reformasi birokrasi mengenai pembagian tugas PNS.
ü  PNS merupakan pilar keempat dalam pemerintahan setelah legislative, eksekutif dan yudikatif.

Setting :  Jakart a, 03 Nopember 2004













ALTERNATIF SOLUSI

Ø  Melakukan evaluasi terhadap kinerja PNS secara menyeluruh.
Ø  Melaksanakan analisis pekerjaan dalam rangka reqruitment, seleksi, dan penempatan PNS.
Ø  Standarisasi pengelolaan SDM dilakukan secara terprogram dan terarah, dari mulai perencanaan hingga peningkatan mutu.
Ø  Sosialisasi yang jelas dan program peningkatan kualifikasi kompetensi yang terukur dan upaya-upaya yang membangkitkan kualitas dan profesionalisme kerja dengan adanya pelatihan dan pengembangan karir.
Ø  Adanya indikator kinerja untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan.
Ø  Penataan kembali system birokrasi di Indonesia.

REKOMENDASI SOLUSI
Ø  Perbaikan sistem birokrasi di Indonesia.
Ø  Perbaikan program dan reqruitment  pegawai.
Ø  Peningkatan kompetensi, kapabilitas dan profesionalitas sumber daya manusia.
Ø  Penerapan system imbalan atau kompensasi yang bersifat adil dan kompetitif.
Ø  Peningkatan kesejahteraan pegawai melalui perbaikan sistem remunerasi, sistem asuransi dan jaminan hari tua pegawai.

 DIAGRAM TULANG IKAN
(FISH BONE)